Cinta Kok Hitung-hitungan?
Menurut saya yang namanya cinta itu haruslah penuh dengan keikhlasan dan tanpa pamrih. Karena cinta itu adalah sesuatu yang murni, yang datang dari dalam hati, yang tidak boleh diintervensi oleh hal apapun di luar dari ketulusan dan keikhlasan orang yang menjalaninya.
Itu adalah sebuah prinsip yang saya pegang teguh untuk urusan percintaan. Saya juga berpikir bahwa semua orang memiliki prinsip yang sama dengan saya. Sampai suatu hari saya menemukan bahwa tidak semua orang berpikir bahwa cinta itu harus ikhlas dan tanpa pamrih.
Ada satu pria yang menurut saya cukup good looking, berkarier bagus, dan punya selera musik yang sama dengan saya. Dari awal perkenalan, saya sudah merasa cocok dengannya. Semua obrolan terasa mengalir dengan menyenangkan bersamanya.
Tanpa disadari, saya pun merasakan getaran-getaran cinta padanya, di dalam hati pun saya berharap kalau dia juga memiliki perasaan yang sama. Kalau kata pepatah lama sih, pucuk dicita ulam pun tiba, itu juga yang saya rasakan. Ternyata, pria pujaan hati itu juga memiliki perasaan yang sama dengan saya.
Singkat cerita, kami pun mulai berpacaran. Masa-masa awal berpacaran terasa begitu indah, semua berjalan dengan lancar. Sampai akhirnya, di bulan ke-7 masa pacaran kami, saya mulai merasa ada satu kejanggalan yang bertentangan dengan prinsip saya, dia mulai berhitung.
Awalnya saya pikir, karena dia sedang melakukan penghematan untuk menabung membeli rumah, makanya jadi agak sedikit perhitungan soal uang. Jika dia sudah membayar tiket nonton kami berdua, dia minta saya untuk membayar makan. Tapi lama kelamaan perhitungannya semakin tajam.
Suatu hari dia bilang pada saya, "mulai sekarang kamu yang bayar ya acara malam mingguan kita. Kan aku sudah keluar uang untuk bensin dan parkir, jadi kamu juga harus keluar uang, supaya impas." Jujur saya heran dengan kalimatnya waktu itu. "Baru kali ini saya menemukan pria seperti ini," ucap saya dalam hati.
Saya bukan tipe wanita matrealistis yang apa-apa harus dibayari laki-laki. Saya bersedia kok mengeluarkan uang dari kantong saya untuk biaya malam mingguan kami, lalu saya juga tidak segan untuk membelikan sesuatu demi menyenangkan hatinya, bahkan saya juga ikhlas membelikan buah tangan untuk keluarganya jika sedang berkunjung ke rumahnya. Semua saya lakukan dengan ikhlas dan tanpa perhitungan.
Saya masih selalu berusaha bersabar dan melihat semua perhitungannya dengan positif. Sampai suatu hari, saya merasa dia sudah keterlaluan. Bayangkan, perhitungannya sudah bukan lagi soal materi, tapi sudah merembet ke urusan pengorbanan. Tiba-tiba ketika kami bertengkar karena suatu hal yang kecil, dia memaki saya dan mengatakan bahwa pengorbanannya selama ini sudah begitu besar untuk saya, dan tidak sebanding dengan apa yang sudah saya lakukan untuknya.
Wow! Bagai disambar petir di siang bolong, saya pun terbakar emosi. Selama ini saya berusaha sabar menghadapi sikap perhitungannya soal materi, tapi kali ini sepertinya saya sudah tidak bisa menahan lagi. Saya katakan padanya, bahwa jika cinta sudah penuh dengan perhitungan dan pamrih, sepertinya itu sudah bukan cinta lagi. Dan saya rasa, cintanya pada saya tidak ikhlas, dan sangat bertentangan dengan prinsip cinta yang saya pegang.
Akhirnya, saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang baru berjalan 9 bulan itu. Lebih baik tidak punya pasangan, daripada harus selalu melakukan perhitungan sampai hal terkecil dalam sebuah hubungan.
Jadi, jangan sampai terjebak dengan penampilan keren, karier yang bagus dan segala kecocokan dalam berbicara. Gali lagi lebih dalam pribadi seorang pria sebelum memutuskan untuk berkomitmen. Jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung.